Agenda
28 June 2017
M
S
S
R
K
J
S
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8

Sebelum pertengahan September 1953, Kalimantan Timur belum memiliki satupun sekolah lanjutan atas termasuk SMA Samarinda, sehingga para siswa dari sekolah lanjutan pertama mengalami kesulitan melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.

            Memang bagi yang memiliki kemampuan lebih, kesulitan ini masih bisa diatasi walaupun harus pindah ke daerah lain seperti daerah-daerah di pulau Jawa, namun bagi yang mempunyai kemampuan terbatas, maka para siswa harus puas mengecap pendidikan sampai tingkat SLTP saja.

           Paratokoh masyarakat mulai berpikir, bagaimana cara mewujudkan sebuah SMA di Samarinda, termasuk dimana daerah yang cocok, pengelolanya, pengajarnya, pemimpinnya dan lain-lain, sehingga dibentuklah satu tim untuk merumuskan masalah ini. Susunan tim tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Achmad Yusuf sebagai Ketua dari unsur partai politik (Masyumi)
  2. Enci Burhan sebagai Sekretaris dari unsur pemerintahan
  3. Enci Abdurahim sebagai Bendahara dari unsur pemerintahan
  4. Aji Bambang Abdul Malik sebagai anggota dari Kepala Dinas PDK
  5. Azis Samad sebagai anggota dari unsur partai politik (PNI)
  6. Mardikun sebagai anggota dari unsur pendidik yang saat itu menjabat sebagai Direktur SMP.

Setelah melalui perjuangan panjang melewati berbagai rintangan dan tantangan, maka pada tanggal 14 September 1953, resmilah berdiri sebuah SMA partikelir dengan menggunakan gedung bekas asrama pelajar yang sekarang berubah menjadi SMA Negeri 1 Samarinda.

Pada mulanya berdirinya, SMA ini hanya memiliki kelas I bagian A yang dipimpin Direktur bantuan dari SMP yaitu Bapak Mardikum yang merangkap sebagai Direktur SMP, dengan waktu belajar terpaksa dilaksanakan sore hari.

Setelah 3 tahun berjalan, SMA partikelir yang berada dibawah Yayasan Dharma Bhakti ini, statusnya berubah menjadi SMA Negeri sesuai surat bernomor: 30/JSP/55 tanggal 11 Djuni 1955 yang diresmikan oleh Residen Koordinator Kalimantan Timur Datu Maju Urang, disaksikan oleh wakil Pemerintah Daerah Istimewa Kutai, Aji Pangeran Tumenggung Pranoto.

Dalam usianya yang relatif muda, SMA Samarinda ini pada lulusan yang pertama mencapai 90%, sehingga Pemerintah Daerah dengan bangga memberikan penghargaan berupa beasiswa ikatan dinas yang pada waktunya harus kembali ke Kalimantan Timur untuk mengabdikan diri demi kemajuan daerah.

Pada tahun 1960, SMA Samarinda membuka kelas filial di Tarakan.  Kelas di Tarakan ini lepas dari SMA Samarinda berdasarkan Surat Keputusan Menteri P & K tanggal 30 Juli 1964 nomor: 79/SK/III dan terhitung mulai tanggal 1 Agustus 1964 menjadi SMA Negara yang berdiri sendiri baik secara organisatoris, administratif maupun di bidang teknik kependidikan.  Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Direktur Pendidikan Menengah Umum tanggal 30 Juli 1965 nomor: 18/Dirpu/1965, terhitung mulai tanggal 1 Agustus 1965, SMA Negara di Tarakan ini resmi menjadi SMA Negeri Tarakan.

Hingga saat ini telah banyak alumnus SMA Negeri 1 Samarinda yang pernah dan atau masih menduduki jabatan penting di daerah ini maupun daerah lain, bahkan pada tingkat nasional.

Dalam perjalanannya SMA Negeri 1 Samarinda selalu berupaya berbenah diri untuk mewujudkan diri sebagai sekolah yang memenuhi harapan masyarakat. Salah satu hasil kerja keras seluruh komponen sekolah ialah ditetapkannya SMA Negeri 1 Samarinda oleh Departemen Pendidikan Nasional menjadi salah satu dari 100 sekolah se-Indonesia sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional hingga dihapuskannya RSBI berdasarkan Amar Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 5/PPU-X/2012 halaman 196.

Demikian juga alumninya juga memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap pengembangan sumber daya manusia di Kalimantan Timur.  Hal ini dibuktikan ketika berlangsung Reuni Akbar dan Ulang Tahun ke-40 SMA Negeri 1 Samarinda pada tahun 1993 alumni SMA Negeri 1 Samarinda membentuk YAYASAN MELATI berdasarkan Akta Notaris H. Hardjo Gunawan, S.H. Nomor 78 tanggal 15 April 1994.  Dalam pasal 3 Akta Notaris tersebut disebutkan bahwa, Maksud dari Yayasan ini adalah membangun Sekolah Lanjutan Tingkat Atas “SMA UNGGUL” di Kalimantan Timur yang tujuan umumnya adalah menunjang Pendidikan Nasional, serta tujuan khususnya adalah menghasilkan keluaran pendidikan yang memiliki keunggulan dalam hal:

  1. Keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  2. Nasionalisme dan patriotisme
  3. Wawasan IPTEK
  4. Motivasi dan komitmen untuk mencapai prestasi
  5. Kepemimpinan dan kepekaan sosial
  6. Disiplin yang ditunjang oleh kondisi fisik yang prima
  7. Kemampuan memasuki jenjang pendidikan tinggi yang bermutu di dalam dan di luar negeri.

Sedangkan makna logo khususnya bunga melati, selain mengandung makna Historis SMA Negeri 1 Samarinda yang diunggulkan juga mengandung makna siswa kader Bangsa Unggul yang harum, bila keunggulan yang diprogramkan dapat dicapai.  Selain itu penggunaan nama MELATI adalah untuk mengabadikan nama jalan letak SMA Negeri 1 Samarinda yaitu Jalan Melati yang saat ini bernama Jalan Bhayangkara.  Rencananya SMA Negeri yang dipilih untuk dijadikan SMA Plus adalah SMA Negeri 1 Samarinda.  Pilihan ini didasarkan pada pertimbangan dan latar belakang sejarah yaitu bahwa SMA Negeri 1 Samarinda adalah salah satu syarat berdirinya Provinsi Kalimantan Timur, kepeloporan perjuangan, fungsi dan peranan para alumninya, kondisi obyektifnya, pandangan masyarakat dan Pemerintah terhadap SMA Negeri 1 Samarinda.  Namun dengan berbagai pertimbangan rencana menjadikan SMA Negeri 1 Samarinda menjadi SMA Plus  dibatalkan, dan akhirnya didirikanlah SMA Negeri 10 sebagai SMA Plus dengan nama SMA Negeri 10 Melati.  Namun sebelum kampusnya berdiri, proses belajar mengajar bagi siswa SMA Negeri 10 Melati dilaksanakan di SMA Negeri 1 Samarinda dan pengajarnya juga para guru SMA Negeri 1 Samarinda yaitu dari tahun 1994 sampai dengan tahun 1996.

Demikian pula para siswanya juga berhasil meraih prestasi gemilang yang bertaraf nasional bahkan ada yang Go Internasional.

SMA Samarinda yang kini telah berubah menjadi SMA Negeri 1 Samarinda yang telah meninggalkan sekolah lama di Jalan Bhayangkara dan menempati kampus baru di Jalan Drs. H. Anang Hasyim telah pernah dipimpin oleh:

1.   Mardikun
2.   Van Der Wil
3.   Moenadi Arief
4.   Soeyadi 
5.   Wagiman
6.   Dulhak Latief
7.   Yusuf Achutanair
8.   C. Usodo
9.   Syahraini Perwiro
10. Awang Andriani
11. Siti Mariyam Iskandar
12. Sjahbandi
13. Husinsjah
14. Romansyah
15. Achmadsyah
16. M. Hatta
17. M. Aini Yasin
18. Suardi 

dan kini SMA Negeri 1 Samarinda dipimpin oleh Bapak K. Suhariyatno.

            Demikian kilas balik SMA Samarinda, semoga SMA Negeri 1 Samarinda tetap menjadi SMA favorit di masyarakat dan siswanya semakin cerdas baik fisik, intelektual, emosi, mental, moral, sosial dan cerdas religi.  Amin.